Pesawaran, Orasipubliknews.co.id – Program unggulan Makanan Bergizi Gratis ( MBG ) yang digadang-gadang sebagai solusi peningkatan gizi anak sekolah kembali mencoreng wajah pemerintah daerah. Kali ini, sebuah roti kemasan yang sudah ditumbuhi jamur ditemukan dalam paket MBG yang dibagikan kepada siswa SMK Wirabuana , Kabupaten Pesawaran. Temuan ini memicu kemarahan masyarakat dan respon keras dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan Indonesia Sejahtera (KIS) setempat.
Video dan foto yang tersebar luas di media sosial menampilkan momen seorang guru membuka paket makanan. Alih-alih menemukan makanan sehat, roti tersebut dalam kondisi tidak layak dikonsumsi dengan bercak jamur yang terlihat jelas. Paket masalah ini diketahui didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi ( SPPG) Sukamaju, Yayasan Liara Insan Brilliant .
Menyanggapi kejadian tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) LBH Kesehatan KIS Kabupaten Pesawaran, Edi Wijaya, angkat bicara dengan nada keras. Ia menolak jika persoalan ini dianggap sepele dan cukup diselesaikan berdasarkan permintaan maaf dari pihak penyedia.
“Ini bukan soal satu roti basi atau permohonan maaf. Ini adalah bukti nyata sistem gagal!” tegas Edi Wijaya di kantornya, Jalan Raya Kedondong, Kecamatan Way Lima, Rabu (04/03/2026).
Edi menyoroti lemahnya sistem pengawasan internal di dapur produksi MBG. Menurutnya, SPPG seharusnya memiliki manajemen mutu yang ketat dengan melibatkan tim profesional seperti ahli gizi dan pengawas lapangan.
“Harusnya ada manajemen yang kuat, ada ahli gizi, aslap, dan relawan. Tugas mereka adalah memastikan makanan yang dikirim ke anak-anak itu layak dikonsumsi. Lalu, bagaimana mungkin roti yang sudah penuh jamur bisa lolos dari semua lapisan pengawasan hingga sampai ke tangan siswa? Ini pertanyaan besar yang harus dijawab. Ini adalah indikasi gagal sistem, bukan sekadar kelalaian individu,” kecamnya.
LBH Kesehatan KIS memastikan akan mengawali kasus ini hingga tuntas. Edi Wijaya menegaskan bahwa kelalaian yang membahayakan kesehatan anak tidak bisa ditoleransi.
“Kami akan kawal persoalan ini. Tidak ada kompromi untuk kelalaian yang bisa membahayakan kesehatan anak didik. Makanan bergizi gratis jangan sampai menjadi petaka gratis,” ujarnya dengan nada lantang.
Langkah konkretnya, LBH Kesehatan KIS telah menyiapkan dua jalur pengaduan. Pertama, dirancang akan memungkinkan sistem pengaduan berbasis barcode digital untuk memudahkan masyarakat melapor dan mempercepat respon. Kedua, tim hukum saat ini tengah menyusun berkas surat resmi yang akan dilayangkan dalam beberapa hari ke depan.
“Langkah awal, kami akan menampilkan pengaduan melalui barcode digital yang sudah disiapkan. Untuk berkas surat resminya, segera kami buat dalam beberapa hari ini. Ini agar ada jejak hukum yang jelas dan kasus ini tidak menguap begitu saja seiring berjalannya waktu,” pungkas Edi.
Insiden ini menyebabkan akustik keras bagi pelaksanaan program MBG di Pesawaran. Masyarakat kini mengharapkan tindakan tegas dari pihak terkait, baik dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, maupun pihak SPPG, untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang dan para siswa penerima manfaat tidak lagi mengakibatkan terjadinya kecelakaan.
Oleh: Redaksi






