BANDUNG, Orasipubliknews.co.id — Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat melalui UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel Cimahi berkolaborasi dengan Vocoda AI Indonesia (CV Anyatha Indonesia) dan Koperasi Kopi Mitra Malabar meluncurkan Vocoda AI, alat bantu sensorik rungu wicara berbasis kecerdasan buatan (AI), di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, Rabu (2/9/2026).
Peluncuran teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses komunikasi sekaligus meningkatkan kemandirian, kepercayaan diri, dan kesempatan kerja bagi penyandang difabel rungu wicara.
Kegiatan dirangkaikan dengan pembukaan stan kafe kopi yang dikelola oleh penyandang difabel rungu wicara. Dua barista binaan, Siti asal Garut dan Putri asal Cimahi, secara langsung melayani pengunjung sekaligus mempraktikkan penggunaan Vocoda AI dalam berkomunikasi dengan masyarakat.
Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel Dinas Sosial Jawa Barat, Andina Rahayu, mengatakan kehadiran teknologi tersebut diharapkan dapat membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi penyandang difabel, baik dalam kehidupan sosial maupun dunia kerja.
«“Semoga alat bantu ini dapat membantu teman-teman difabel rungu wicara berkomunikasi lebih baik, meningkatkan kemandirian, serta membuka peluang yang lebih besar untuk berkarya dan bekerja,” ujarnya.»
Teknologi untuk Menumbuhkan Kepercayaan Diri
Direktur CV Anyatha Indonesia (Vocoda AI Indonesia), Jusi Kantahuri, menyampaikan bahwa pengembangan Vocoda AI tidak semata-mata berorientasi pada teknologi, tetapi juga diarahkan untuk membantu penyandang difabel menemukan jati diri dan membangun rasa percaya diri.
«“Harapan kami, teman-teman difabel dapat bertindak secara mandiri dengan menggunakan aplikasi yang memang kami khususkan untuk membantu mereka berkomunikasi. Kami ingin mereka lebih percaya diri, tidak merasa termarginalkan, dan bisa bergaul di tengah masyarakat seperti masyarakat pada umumnya,” kata Jusi.»
Menurut Jusi, pengalaman selama dua hari membuka stan kopi di lingkungan Unpar menunjukkan bahwa penyandang difabel rungu wicara mampu berinteraksi dan memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan baik.
Mereka tidak hanya menjalankan tugas sebagai barista, tetapi juga berkomunikasi dengan mahasiswa, dosen, dan karyawan kampus menggunakan dukungan teknologi Vocoda AI.
«“Kami berbahagia melihat mereka menemukan kepercayaan dirinya. Mereka mampu melayani pelanggan sambil memperkenalkan Vocoda AI kepada masyarakat,” tuturnya.»
AI Membantu Komunikasi Dua Arah
Jusi menjelaskan, Vocoda AI masih terbuka untuk terus dikembangkan karena menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Salah satu fungsi yang diunggulkan adalah membantu penyandang difabel menyusun kalimat dengan struktur bahasa yang lebih baik.
«“AI membantu mereka menyusun kalimat dengan pola subjek, predikat, objek, dan keterangan yang lebih tepat. Ini penting karena sebagian besar penyandang rungu wicara tidak terbiasa mendengar susunan kalimat secara utuh,” ujarnya.»
Sementara itu, penasihat Vocoda AI Indonesia, John de Jong, diaspora Indonesia yang menetap di Belanda sejak 1966, mengungkapkan bahwa gagasan menghadirkan aplikasi tersebut berawal dari keprihatinannya terhadap terbatasnya kesempatan kerja bagi penyandang tunarungu di Indonesia.
John kemudian menjalin komunikasi dengan pengembang aplikasi di Belanda dan menggagas proyek percontohan bersama Dinas Sosial Jawa Barat.
«“Kami memilih pendekatan dari bawah atau bottom-up melalui proyek nyata. Kami melatih enam penyandang tunarungu menggunakan aplikasi ini dan membekali mereka keterampilan sebagai barista agar lebih cepat mendapatkan kesempatan kerja,” katanya.»
Menurut John, pengembangan Vocoda AI didorong oleh semangat sosial dan tidak berorientasi komersial. Pendanaan awal proyek tersebut berasal dari kontribusi pribadi tim yang terlibat.
Secara teknis, Vocoda AI memiliki kemampuan menerjemahkan suara menjadi teks dan teks menjadi suara. Dengan demikian, komunikasi antara penyandang tunarungu dan masyarakat umum dapat berlangsung secara lebih mudah.
«“Ketika pelanggan berbicara, aplikasi akan mengubah suara menjadi tulisan yang dapat dibaca oleh penyandang tunarungu. Sebaliknya, tulisan yang mereka buat dapat diterjemahkan menjadi suara. Di situlah manfaat utamanya,” jelas John.»
Mendorong Jawa Barat yang Lebih Inklusif
Peluncuran Vocoda AI di Unpar menjadi langkah awal pengenalan teknologi tersebut di Jawa Barat sekaligus bagian dari upaya membangun ekosistem yang lebih inklusif bagi penyandang difabel.
Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, pelaku teknologi, koperasi, dan komunitas difabel menunjukkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan tidak hanya berbicara mengenai kemajuan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dapat menghadirkan kesetaraan kesempatan dan martabat bagi setiap manusia.
Vocoda AI diharapkan terus dikembangkan sesuai kebutuhan penyandang difabel rungu wicara, sehingga manfaatnya dapat diperluas dalam bidang komunikasi, pendidikan, pelayanan publik, hingga kesempatan kerja.
Pada akhirnya, teknologi bukan sekadar alat untuk mempermudah komunikasi. Lebih dari itu, teknologi dapat menjadi jembatan agar mereka yang selama ini menghadapi hambatan komunikasi dapat berdiri lebih mandiri, berkarya dengan percaya diri, dan hadir setara di tengah masyarakat.
Editor: (Rama Wijaya, S.H)






