RISNO DAN JALAN PENGABDIAN: HADIR MEMBAWA KESEIMBANGAN DI TENGAH DINAMIKA KARANG TARUNA CIJERUK

BOGOR, JAWA BARAT18 Dilihat

Pemuda Desa Sukaharja ini memilih mengabdi dan menjaga komunikasi antarunsur kepemudaan dibanding terlibat dalam dinamika kepentingan organisasi.

BOGOR, Orasipubliknews.co.id — Pengabdian kepada masyarakat tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar. Terkadang, ia tumbuh dari seorang pemuda desa yang memilih tetap berdiri di tengah dinamika organisasi dan memberikan tenaga terbaiknya untuk kemajuan lingkungan.

Semangat itulah yang kini dibawa Risno, pemuda asal Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Ia dipercaya menjadi bagian dari Garda Sakti Sekata Karang Taruna Kabupaten Bogor dalam keterangan resminya Senin, 21/09/2026.

Bagi Risno, bergabung dalam kepengurusan bukan sekadar soal jabatan, atribut, ataupun posisi dalam struktur organisasi. Ada niat yang jauh lebih sederhana sekaligus mendasar: mengabdikan diri kepada masyarakat melalui Karang Taruna, khususnya di wilayah Kecamatan Cijeruk.

Ia menilai pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan gagasan, tenaga, kepedulian, dan keberanian dalam mengambil peran.

Dinamika organisasi kepemudaan di tingkat kecamatan, menurut Risno, tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pandangan, kepentingan, dan cara membaca persoalan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah organisasi.

Namun, ketika dinamika tersebut mulai membuat energi organisasi tersita pada persoalan internal, ia menilai diperlukan ruang untuk kembali mengingat tujuan awal: Karang Taruna dibentuk untuk pengabdian dan pemberdayaan generasi muda serta masyarakat.

“Saya tidak hadir untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Saya ingin hadir sebagai bagian yang bisa menjaga keseimbangan. Kalau ada perbedaan, mari kita dudukkan bersama. Kalau ada persoalan, mari kita selesaikan dengan kepala dingin. Karena pada akhirnya yang harus kita pikirkan adalah masyarakat dan kemajuan pemuda Cijeruk,” ujar Risno.

Melalui Garda Sakti Sekata Karang Taruna Kabupaten Bogor, Risno berharap dapat menjadi jembatan komunikasi antarunsur kepemudaan di Kecamatan Cijeruk.

Baginya, perbedaan karakter, kepentingan, dan pandangan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh. Justru dari perbedaan itulah diperlukan kedewasaan organisasi agar setiap pengurus dapat kembali pada satu tujuan bersama.

Risno menyadari perjalanan tersebut tidak akan mudah. Ia memilih untuk tidak ikut larut dalam berbagai dinamika dan kepentingan yang ada, melainkan mencoba membangun ruang komunikasi yang lebih sehat.

Baginya, organisasi bukan tempat untuk berebut kepentingan, tetapi ruang untuk membuktikan seberapa besar seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Dari Desa Sukaharja, Risno membawa satu pesan sederhana: pemuda tidak harus selalu berada di depan untuk terlihat, tetapi harus bersedia berada di tengah ketika masyarakat membutuhkan keseimbangan.

Karena pengabdian sejatinya bukan tentang seberapa besar nama kita dikenal, melainkan tentang seberapa banyak manfaat yang mampu kita tinggalkan.

“Jabatan bisa berganti, kepengurusan bisa berubah, tetapi niat untuk mengabdi jangan sampai ikut berubah,” pungkasnya.

(Rama Wijaya, S.H)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *