Lubang Maut Padang Rincang: Belasan Mobil Jadi Korban, Pemerintah Harus Gerak Cepat Jelang Mudik Lebaran

HEADLINE, PESAWARAN, PUPR132 Dilihat

Pesawaran, Orasipubliknews.co.id — Jalan rigid beton di Dusun Padang Rincang, Way Lima, berubah menjadi “perangkap roda” bagi pengendara. Bahu jalan yang tak sejajar dan lebih dalam dari badan jalan telah menangkap belasan mobil, membuat mereka dilarang menggantung dan kehilangan traksi. Ironisnya, Kejadian sudah berulang kali masuk ke lubang yang sama warga masyarakat meminta segera ditindaklanjuti, karena arus mudik Lebaran sudah di depan mata.

Mobil Toyota avanza milik suprise

 

Seperti yang kembali terjadi pada Jumat (23/1/2026), Supri, warga Parerejo, Pringsewu, menjadi korban terbaru, kami baru pulang dari bandara mengantarkan saudara berangkat umroh arah pulang lewat jalan padang rincang. Saat berpapasan dengan truk di ruas jalan tersebut, ban belakang kiri Toyota Avanza miliknya langsung “menggantung” di tepi beton kaku. Penyebabnya jelas, bahu jalan yang tidak sejajar tuturnya.

“Kita tidak menghitung berapa mobil yang mengalami kejadian ini Mas, belasan mobil bisa lebih Mas,” tegas Farurrozi (48) atau akrab disapa Guru Rozi, warga sekitar yang sudah jenuh. Menurutnya, ini adalah kejadian langganan. “Itu menyebabkan bahu jalan lebih rendah dari badan jalan,” dia, sekaligus mengusulkan solusi sederhana: penimbunan segera pada bahu jalan kanan dan kiri.

foto Junaidi dan Fahrurozi warga sekitar

Kesaksian serupa datang dari Junaidi, warga Batu Raja yang kerap membantu korban. “Benar mas, ini bukan kali pertama. Beberapa kali saya melihat dan membantu,” katanya. Korban tidak dipandang bulu, mulai dari Toyota Inova rombongan dari Jawa, mini bus dari Metro, hingga mobil pribadi. Masalahnya pun bervariasi, ada yang ban depan (as pikul) yang menggantung, ada juga ban belakang (dudukan shock).

 

Yang paling meyakinkan adalah timing-nya. Junaidi mengingatkan, “Bang Junaidi berharap mungkin ini dibenahi mengingat tinggal menghitung hari kita puasa dan Idulfitri. Jalan semakin ramai dan mobil dari luar daerah yang tidak hapal medan. Dikhawatirkan banyak mobil mengalami nasib yang seperti ini tadi.”

 

Titik Kritis

1. Bahaya Berulang: Kejadian ini bukan kecelakaan tunggal, melainkan pola yang telah terjadi belasan kali, menunjukkan kelalaian dalam pemeliharaan infrastruktur.

2. Ancaman Nyata Jelang Mudik: Jalan ini akan menjadi salah satu urat nadi transportasi saat arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Kondisi berbahaya ini mengancam keselamatan keluarga yang bepergian.

3. Solusi Sederhana tapi Diabaikan: permintaan warga untuk penimbunan bahu jalan adalah solusi praktis dan mendesak, namun tampaknya tidak menjadi prioritas dinas terkait.

Jalan rigid beton di Padang Rancang telah menjadi simbol pengabaian. Setiap lubang dan ketidakrataan di sana bukan hanya kerusakan fisik, tapi lubang yang menjadi tanggung jawab. Pertanyaannya sekarang, harus berapa lagi mobil yang terjebak, atau—na’uzubillah—kecelakaan yang lebih parah terjadi, sebelum Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) setempat bergerak? Keselamatan warga dan pemudik seharusnya bukan harga mati yang bisa ditawar. (Red) 

 

Tagar : #JebakanPadangRincang #InfrastrukturMematikan #DaruratJalanWayLima # MudikAman2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *